Sabtu, 22 September 2012

Buku Mangongkal Holi


T


Terbitnya buku kumpulan cerpen berbahasa Batak (torsatorsa Hata Batak), Mangongkal Holi (Penerbit Selasar Pena Talenta, 2012), merupakan bukti keuletan Pengarang Batak Bapak Saut Poltak Tambunan untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Buku ini akan menjadi pelecut sejarah bagi masyarakat Batak untuk tidak takut kehilangan pembaca bila menulis dalam bahasa Batak.

Memang, dari 10 cerpen dalam buk

u ini, sebagian merupakan cerpen yang awalnya ditulis dalam bahasa Indonesia, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Batak. Justru karena diterjemahkan itulah cerpen tersebut menjadi lebih memiliki roh. Sebab, sesungguhnya roh dari cerpen itu akan muncul apabila ditulis dalam bahasa Batak, terutama karena kapital-kapital sosial masyarakat Batak menjadi lebih awet dalam teks-teks bahasa Batak.

Dalam cerpen Mangongkal Holi, yang bercerita tentang tradisi memindahkan makam leluhur (mangongkal holi) di lingkungan masyarakat Batak perantau yang tak resap lagi terhadap tradisi seperti itu. Dialok yang dibangun Saut di antara para tokohnya, yang menunjukkan kuatnya tradisi bermufakat di lingkungan masyarakat Batak, menjadi lebih menarik disimak sebagai sebuah gambaran antropologi budaya karena disajikan dalam bahasa Batak. Makna yang terkandung dalam setiap item kultur tradisi mangongkal holi yang harus melibatkan semua masyarakat di kampung, menerangkan kepada pembaca betapa masyarakat Batak merupakan sosok masyarakat yang hanya akan melakukan sebuah pekerjaan jika sudah dibicarakan dan diputuskan secara demokrasi.

Seandainya cerpen ini ditulis dalam bahasa Indonesia, akan banyak nilai-nilai habatahon (budaya Batak) yang tak bisa ditemukan. Bahasa Batak membuat nilai-nilai itu tetap terjaga. Begitu juga halnya dengan cerpen Lanteung. Awalnya cerpen ini ditulis dalam bahasa Indonesia, tapi ketika membacanya dalam bahasa Batak, ruh cerita tentang Lanteung lebih terasa.

Cerita-cerita lain dalam buku ini menjadi lebih tepat dikisahkan dalam bahasa Batak. Sebab itu, upaya Saut untuk melestarikan bahasa Batak dengan menulis karya sastra berbahasa Batak, layak menginspirasi banyak pihak. Sangat layak pula apabila panitia Hadiah Sastra Rancage pun mulai melirik karya sastra berbahasa Batak untuk diikutsertakan dalam penilaian. Pasti, kontinuitas penerbitan buku sastra berbahasa Batak akan terjaga sebagaimana kontinuitas penerbitan buku sastra berbahasa Sunda dan Jawa.

Akhir kata, Semoga Sukses Selalu buat Pengarang buku Mangongkal Holi bapak Saut Poltak Tambunan. Semoga jalan lama yang dibuka kembali makin diikuti banyak sastrawan asal Sumatra Utara, yang lahir dan besar dari tradisi masyarakat Batak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar